Beranda Opini Dampak Covid-19 terhadap Perekonomian Petani di Wonosobo

Dampak Covid-19 terhadap Perekonomian Petani di Wonosobo

21
0
BERBAGI
Petani kol (ilustrasi)
Petani kol (ilustrasi)

Oleh: Alfiyana Durrotun Nafisah

Corona virus disease (covid-19) awalnya ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir bulan Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan menyerang sistem penafasan, gejala covid-19 yang paling umum adalah demam dan batuk kering. Covid-19 juga menyebabkan infeksi berat pada paru-paru hingga menyebabkan kematian. Virus ini menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia. Dengan adanya Covid-19 ini tentunya berdampak buruk pada berbagai sektor di Indonesia yaitu perekonomian pada sektor pertanian.

Kebijakan Bela Beli Produk Pertanian Wonosobo sebgai upaya pemulihan ekonomi di tengah pandemi covid-19 ini diharapkan mampu menggairahkan sektor pertanian untuk bertahan menghadapi virus covid-19 ini.

Implementasi di lapangan setiap koperasi yang ditunjuk akan melakukan pembelian produk hasil pertanian lokal melalui dana tamggung jawab sosial perusahaaan masing-masing, untuk di distribusikan TNI atau Polri dengan sistem paket. Harga satu paket minimal Rp10.000. Harga jual dari koperasi sama dengan harga beli di petani, sehingga penjualan ini tanpa keuntungan atau laba alias nonprofit.

Hasil pertanian di Kabupaten Wonosobo akhir-akhir ini harga jatuh ke titik terendah, sehingga petani memilih membiarkan panennya membusuk di sawah. Harga sayuran di tingkat petani jauh dari harga normal, seperti kubis Rp200-Rp500/kilogram, cabai hijau Rp5.000, dan cabai merah Rp7.000/kilogram.

Dengan harga yang sangat rendah petani rugi banyak karena hasil penjualan tidak sesuai dengan modal penanaman. Penurunan harga kobis, cabai dan sayuran lain disebabkan oleh dampak covid-19 karena beberapa faktor salah satunya daya beli masyarakat menurun .

Faktor lain yang menyebabkan kerugian petani yaitu masalah distribusi, dari satu daerah bisa surplus sedangkan daerah lain kurang dari sisi logistik. Pola perilaku konsumen dimasa pandemi covid-19 cenderung berubah menjadi pola hidup sehat dengan mengonsumsi sayuran pilihan, ikan, daging dan meminum ramuan herbal agar sistem imun meningkat dan tidak gampang terpapar virus covid-19.

Solusi lain mengatasi masalah tersebut dengan memanfaatkan digital platform karena dimasa pandemi seperti ini masyarakat cenderung memilih berbelanja online untuk menghindari kerumunan.

*Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sarjanawiyata Yogyakarta