Menyambut PTM Terbatas dengan IHT Peningkatan Kompetensi Guru

  • Bagikan

TERASPENDIDIKAN.COM– Selama dua hari, guru dan Kepala SMP Negeri 1 Bukateja, Purbalingga tampak antusias mengikuti In House Training (IHT) Peningkatan Kompetensi Guru dalam Penilaian Otentik dan Desain Pembelajaran Berbasis Literasi, Karakter, dan Lingkungan. Kegiatan IHT diikuti semua guru sebanyak 43 orang.

Narasumber kegiatan ini  Bangun Pracoyo, S.Pd.,M.Pd. Ruangan aula SMP Negeri 1 Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah yang luas dan representatif membuat para peserta semangat mengikuti setiap sesi dari Jumat hingga Sabtu,   17-18 September. Materi yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan guru  dengan penyajian yang bervariasi menjadikan semua peserta aktif mengikuti kegiatan dari pukul 08.00 sampai 14.30 WIB.

“IHT ini sebagai tindak lanjut dari hasil audit mutu yang dilaksanakan oleh Lembaga Penjamian Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Tengah sekaligus untuk menyambut Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). Berdasarkan monitoring dan evaluasi  Tim Gabungan dari Dinas Kesehatan, Dindikbud, pengawas sekolah, dan BPBD Kabupaten Purbalingga, SMP Negeri 1 Bukateja dinyatakan layak dan siap untuk melaksanakan PTM Terbatas”, kata Tjandra Irawati, S.Pd., kepala SMP Negeri 1 Bukateja.

Tjandra Irawati juga menjelaskan bahwa secara fisik, sarana dan prasarana sudah sangat siap menyambut PTM Terbatas, itu saja belum cukup. Kompetensi guru-guru yang sudah baik perlu ditingkatkan agar lebih baik lagi. Terutama dalam hal penilaian otentik dan desain pembelajaran.

Materi tentang Desain Pembelajaran Berbasis Literasi, Karakter, dan Lingkungan diawali dengan tanya jawab mengenai kurikulum yang sekarang berlaku. Dijelaskan oleh Bangun Pracoyo selaku narasumber bahwa kurikulum yang berlaku sampai saat ini adalah Kurikulum 2013 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Adapun kurikulum yang dilaksanakan oleh Sekolah Penggerak adalah Kurikulum  Operasional Sekolah Penggerak atau Kurikulum Sekolah Penggerak. Kurikulum ini terbatas hanya diberlakukan bagi Sekolah Penggerak. Sekolah yang belum menjadi Sekolah Penggerak sebaiknya mulai melaksanakan Diversifikasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Seorang guru Bahasa Inggris yang mendapat tugas tambahan sebagai Urusan Kurikulum, Iis Maryanti, S.Pd., bertanya,”Muatan kurikulum antara lain intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, yang intrakurikuler dan ektrakurikuler sudah paham. Yang belum paham yaitu kokurikuler. Bagaimana mendesainnya dalam Diversifikasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Pak?”

Bangun Pracoyo mengatakan, kegiatan kokurikuler sudah biasa dilaksanakan oleh Bapak Ibu guru. Namun, dalam kurikulum tidak didesain secara sistematis. Secara tersirat sudah ada tetapi tidak tersurat dengan jelas dan lengkap. Akibatnya pelaksanaan dan penilaiannya tidak jelas.

“Mulai sekarang sebaiknya didesain dan ditulis dalam kurikulum secara jelas dan rinci. Sebelum dijelaskan bagaimana mendesainnya dalam kurikulum, kita ingat kembali apa itu kegiatan  kokurikuler,” katanya.

Menurut Bangun, kegiatan kokurikuler adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk penguatan, pendalaman, dan/atau pengayaan kegiatan intrakuriler.  Pelaksanaan kegiatannya di luar jam pelajaran intrakurikuler (termasuk waktu libur), dapat dilakukan di satuan pendidikan ataupun di luar satuan pendidikan untuk menunjang pelaksanaan intrakurikuler.

Kegiatan kokurikuler dikembangkan berdasarkan hasil analisis konteks.  Kegiatan harus mengembangkan literasi dan numerasi.  Kegiatan kokurikuler menumbuhkembangkan karakter dan masyarakat belajar (Learning Community).  Kokurikuler yang tercantum pada dokumen 1 KTSP berisi tentang gambaran umum tentang pengelolaan kokurikuler berupa deskripsi atau matriks.

Contoh matriks Kegiatan Kokurikuler pada Dokumen 1 Diversifikasi KTSP

No Kegiatan Kokurikuler Uraian Kegiatan Mapel Kelas Karakter Penilaian Penanggung Jawab
1              
2              
3              
4              
5              
             

 

Setelah tanya jawab tentang Merdeka Belajar, Guru Penggerak, Sekolah Penggerak, Standar Nasional Pendidikan, kurikulum terbaru dan berbagai informasi terkini kegiatan dilanjutkan dengan merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Literasi, Karakter, dan Lingkungan. Tentu banyak acuan yang menjadi dasar untuk menentukan seperti apa desain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) terbaik. Salah satu tolok ukur untuk menentukan seperti apakah RPP yang terbaik adalah Instrumen Akreditasi Satuan Pendidikan (IASP) 2020.

Pada butir instrumen IASP 2020 nomor 19 tentang mutu guru disebutkan bahwa guru menyusun perencanaan pembelajaran aktif, kreatif, dan inovatif dengan mengoptimalkan lingkungan dan memanfaatkan TIK atau cara lain yang sesuai dengan konteksnya.

Ada empat level mutu guru dinilai dari kemampuan menyusun RPP. Level 1 apabila Guru menyusun RPP yang belum memfasilitasi seluruh siswa belajar aktif, kreatif, dan inovatif. Level 2 apabila Guru: (1) mampu menyusun RPP yang memfasilitasi seluruh siswa belajar aktif, kreatif dan inovatif yang dapat dilihat dari aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) yang menempatkan siswa sebagai subyek dalam kegiatan pembelajaran, (2) kurang sistematis dalam menjelaskan tahapan penyusunan RPP yang dibuatnya.

Level 3 jika Guru mampu: (1) menyusun RPP yang memfasilitasi seluruh siswa belajar aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, yang dapat dilihat dari aktivitas KBM yang menempatkan siswa sebagai subyek dalam kegiatan pembelajaran dengan mengoptimalkan pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, (2) menjelaskan tahapan penyusunan RPP yang dibuat berdasarkan ketentuan yang berlaku. Level tertinggi yaitu level 4  apabila Guru mampu: (1) menyusun RPP yang memfasilitasi seluruh siswa belajar aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan seperti: merancang penelitian sederhana, melakukan tugas proyek tertentu berdasarkan ide-ide siswa sendiri dan mengoptimalkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar serta memanfaatkan TIK atau cara lain yang sesuai dengan konteksnya, (2) menjelaskan tahapan penyusunan RPP yang dibuatnya dengan memperhatikan hasil refleksi/evaluasi proses pembelajaran sebelumnya.

Kepala sekolah dan semua guru sepakat untuk menjadi guru level 4 atau yang terbaik. Narasumber  mulai membimbing untuk mendesain RPP yang memfasilitasi seluruh siswa belajar aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan seperti: merancang penelitian sederhana, melakukan tugas proyek tertentu berdasarkan ide-ide siswa sendiri dan mengoptimalkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar serta memanfaatkan TIK atau cara lain yang sesuai dengan konteksnya.

“Format RPP bebas, silakan memilih yang ringkas (satu lembar) atau yang lengkap. Yang penting harus membuat perencanaan pembelajaran yang memperhatikan personalisasi pembelajaran.  Pembelajaran sebagai aktivitas tim yang kolaboratif. Pendekatan yang beragam.  Proses belajar berorientasi pada siswa. Berfokus pada penguatan pendidikan karakter, literasi dan numerasi,” kata Bangun.

Dengan berkolaborasi dengan teman satu mata pelajaran dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan akhirnya semua guru berhasil menyelesaikan satu RPP terbaik. Salah satu perwakilan maju untuk mempresentasikan hasil kolabosarinya. Endah Triyani, S.Pd. guru Mapel IPA mempresentasikan RPP karyanya. Hasilnya sangat bagus. Materi zat aditif alami dan buatan didesain dengan pendekatan Saintifik dan model pembelajaran Problem Base Learning. Menggunakan aplikasi google meet, memanfaatkan jamboard dan google form serta live worksheet  tergambar  Endah Triyani, S.Pd. sudah terampil memanfaat teknologi informasi untuk mempermudah proses belajar mengajar. Benda-benda di sekitar siswa dan sekolah juga digunakan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Kegiatan yang sudah diarahkan agar siswa aktif, kreatif, kolaboratif, berpikir kritis, dan komunikatif. Hasil analisis RPP yang disusun  literasi baru pada tahap pembiasaan belum sampai tahap pengembangan. Numerasi juga belum nampak. Setelah diberi masukan oleh narasumber, RPP direvisi.

Mengingat waktu sudah semakin sore, tidak semua peserta dapat mempresentasikan hasil karyanya. Untuk mengaktifkan akun belajar. id  yang sudah dimiliki Bapak ibu maka semua tugas dikirim via e-mail bangunpracoyo11@dinas.belajar.id  untuk dianalisis dan diperaiki  bersama. Semoga dengan kegiatan IHT kompetensi Bapak Ibu Guru  meningkat dan siap menyongsong Pembelajaran Tatap Muka Terbatas dengan semangat baru dan pembelajaran yang inovatif dan efektif.*

Bangun Pracoyo, Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga     

  • Bagikan