Melemahnya Makna Pendidikan

  • Bagikan
Toto Dartoyo/Foto: Ist

Oleh Toto Dartoyo

Salah satu tugas yang dibebankan oleh GBHN kepada pendidik adalah mendidik. Saya tentu punya kewajiban tugas itu sesuai dengan kapasitas saya sebagai guru, sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Apalagi ketika ada kesempatan menuliskan peran itu manakala diminta oleh pihak sekolah agar produktif di tengah wabah saat berada di rumah saja. Tentu dengan harapan bisa bermanfaat bagi kehidupan ini. Syukur-syukur menjadi inspirasi di tengah dahaga akan sejuknya tingkah polah siswa-siswi kita.

Sebagai guru, ada sebuah pengalaman sederhana, namun begitu menggelitik untuk diungkapkan di ruang terhormat ini. Sebuah kejadian saat saya berada di kelas ketika tengah asyik menghadapi murid-murid. Dan ini boleh ditanyakan kebenarannya kepada mereka tentang apa yang akan saya ceritakan kepada Anda. Sebab kejadian ini berulangkali terjadi di setiap kesempatan mengajar di awal-awal tahun pelajaran baru.

Benar. Ini mungkin tidak ada di pelajaran manapun. Maksud saya tidak diajarkan dalam kurikulum yang disampaikan oleh guru-guru di kelas-sejauh pengetahuan saya. Bahkan tidak ada dalam pelajaran yang saya ampu, Bahasa Indonesia.

Ada siswa-dua atau tiga- dari lain kelas yang mendatangi kelas saya ketika saya mengajar. Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, mereka ( seorang bertindak sebagai jubir dan yang dua menunggu di luar kelas) langsung menyampaikan maksudnya tanpa menghiraukan saya yang ada di dalam. Keperluan mereka ternyata menyampaikan informasi bahwa seorang siswa yang ada di kelas yang sedang saya ajar diminta menghadap seorang guru di kantor karena ada suatu keperluan urgen. Saya memakluminya.

Bukan hendak mempermalukan si jubir di depan siswa-siswi yang sedang saya hadapi, “Stop,” seru saya tiba-tiba setelah mereka menyampaikan maksudnya. “Coba kamu ulangi sekali lagi, ” kata saya kepada penyampai pesan sambil mempersilahkannya untuk keluar dari kelas dan mengulangi apa yang telah disampaikan karena bagi saya selaku orang timur, mereka telah “melanggar” tata cara kesopanan atau etika ketika masuk suatu ruangan. Terlihat sepele? Ya, sangat sepele.

Murid dari lain kelas itu bingung. Murid-murid yang sedang saya ajar pun mengalami hal yang sama. Ada apa dengan maksud komunikasi saya mengeluarkan mereka dan meminta untuk mengulang informasi yang telah disampaikan? Adakah yang salah dengan informasinya? Atau apa? Dan saya mafhum dengan kebingungan mereka. Hingga akhirnya saya tuntun mereka terutama kepada penyampai pesan bagaimana tatacara seseorang masuk ke sebuah ruangan hingga dia keluar dari ruangan itu. Mulai dari mengucapkan salam, menghampiri guru yang ada di ruangan itu untuk minta izin, hingga kembali lagi untuk mengucapkan terima kasih sampai dia berlalu meninggalkan kelas.

Sebagai rasa bangga bahwa penyampai pesan telah memenuhi permintaan saya, sebelum dia berlalu meninggalkan kelas, saya mengacungkan jempol kanan kepadanya. Dia pun berlalu meninggalkan kami dan saya segera menyampaikan penegasan kepada siswa yang saya hadapi bahwa sebagai manusia kita memiliki tata cara. Dan tata cara ada di setiap hal. Karena tatacara inilah kita memperoleh derajat yang tinggi sebagai manusia. Artinya, seorang manusia dikatakan terhormat apabila memiliki sopan santun dalam bertindak dan tutur kata.

Di tengah penegasan itu, beberapa siswa tampak aneh dalam sikapnya. Mereka terlihat menunduk dan seolah menyembunyikan sesuatu. Setelah saya dekati ternyata mereka sedang menggenggam alat komunikasi. Sekali lagi, saya tidak bermaksud mempermalukannya, beberapa alat komunikasi segera saya sita dan saya jelaskan bahwa sangat tidak elok, apabila diajak ngobrol dan diskusi tapi tatapan mata melihat ke arah lain.

Setelah jam istirahat memanggil, saya bertekad akan menyampaikan hal ini kepada pimpinan agar di setiap kejadian serupa, anak-anak telah mengerti dan paham akan suatu tata cara atau adab dalam bersosialisasi, sebab pimpinanlah yang berwenang mensahkan sebuah peraturan. Sehingga kami tidak perlu repot-repot mengajarkan hal teknis semacam ini.

Di rumah, sekarang, saya renungkan mengapa kasus yang pernah saya alami-dan saya yakini juga dialami oleh guru-guru lain di negeri +62 ini- bisa terjadi? Apakah ada faktor penyebabnya? Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi siapapun di tengah arus melemahnya karakter anak-anak bangsa. Penulis hanya bermaksud urun saran, barangkali bermanfaat guna pelestarian adat dan budaya ketimuran atau apalah namanya yang bernilai positif.

Kita mengetahui bahwa kemajuan teknologi saat ini benar-benar bergerak sangat masif bahkan mampu memporakporandakan kreativitas anak bangsa. Ini telah berlangsung lama. Menurut Yakob Sumarjo (1985) malah telah dimulai sejak 1970-an. Terlebih lagi, menurut saya pereduksian itu diiringi dengan budaya permisif orang tua terhadap keinginan-keinginan sesaat buah hati mereka. Anak-anak jadi terbuai dalam ayunan teknologi. Norma dan adab jadi hilang. Belum lagi orang tua yang teramat sibuk dalam karir dan ekonomi sehingga lupa bahwa ada yang harus diberikan kepada anak selain materi dan teknologi.

Akhirnya, pendidikan budi pekerti pun hanya dilimpahkan pada kebijaksanaan guru di sekolah yang hanya memiliki persentase jauh lebih sedikit dalam tatap muka dibanding orang tua. Dan sialnya, kurikulum pelajaran agama hanya dijatah dua jam pelajaran dalam seminggu. Syukurnya, pendidikan budi pekerti ini akhirnya mendapat jatah satu jam pelajaran yang digabung ke dalam mata ajar Agama setelah belasan tahun selalu diperjuangkan oleh mereka yang peduli di ruang-ruang opini media masa.

Untuk itu, siapakah yang harus menjadi kambing hitam dunia pendidikan kita? Jawabnya semuanya. Semuanya kambing hitam. Dan semuanya juga kambing putih, karena semua pihak terlibat di dalamnya. Sekarang hingga kapan pun tidak ada satu pun pihak yang harus disalahkan. Semua pihak-pemerintah, sekolah, dan orang tua serta ulama- harus segera berbenah dan mengoreksi diri bahwa ada sesuatu yang mulai hilang dari negeri ini yaitu akhlak dan kepribadian (baca: karakter) bangsa.

Lalu apa sebenarnya yang menjadi permasalahan dalam dunia pendidikan kita? Menurut Abudin (2002) seperti yang dikutip Dodi dan Rudi dalam bukunya Paradigma Pendidikan Berkualitas, salah satu masalah serius yang ada di dalam konsep pendidikan adalah orientasi pendidikan yang cenderung rasionalis. Dan Barat adalah pemegang kunci peran pendidikan rasional ini. Karena akhirnya, konsep pendidikan semacam ini menyudutkan manusia pada satu aspek, yaitu aspek akal semata. Haedar Nashir (2013) menambahkan aspek emosi, aspek spiritual, dan aspek agama tidak tersentuh sama sekali. Pada gilirannya nanti akan menghasilkan manusia yang rapuh dan resah, sebab telah terjadi ketidakseimbangan antara pendidikan kognitas dan mentalitas tadi.

Permasalahan pendidikan di atas, tampaknya lebih dipertegas lagi oleh Ahmad (2006) bahwa masalah yang lebih besar lagi dalam pendidikan adalah bukannya bagaimana lapangan kerja dapat terpenuhi, melainkan pendidikan belum bisa menciptakan manusia yang berakhlaq mulia. Menurutnya, bangsa-bangsa yang dimusnahkan oleh Tuhan bukan karena tidak menguasai iptek atau kurang pandai, melainkan karena akhlaknya buruk.

Maka, menurut hemat penulis, tidaklah mengherankan di masa yang akan datang, peran pesantren atau sekolah yang berbasis agama akan memegang peran penting dalam dunia pendidikan di Indonesia. Artinya, pesantren yang berpadu dengan sekolah umum akan diserbu dan diminati, sementara sekolah umum biasa perlahan ditinggalkan. Dan pemerintah harus segera bersiap diri dengan tantangan dan eksodus seperti ini. Dalam arti, segala kebijakan yang diambil pada sektor pendidikan harus mengarah pada aspek tersebut. Mau tidak mau.***

*Penulis adalah guru SMPN 1 Cikampek

  • Bagikan